SAMARINDA – Menjadi perempuan yang menjalankan peran ganda di tengah masyarakat bukanlah perkara mudah. Seringkali, rasa lelah dan stres dipendam demi profesionalitas kerja atau keharmonisan keluarga. Fenomena “silent struggle” inilah yang dibahas tuntas dalam diskusi hangat bertajuk “Perempuan Bekerja, Perempuan Bertahan” yang diinisiasi DPD PSI Kota Samarinda.
Bertempat di Sekretariat Koperasi Produsen Harlene Crochet Sejahtera, Jalan Bung Tomo, Samarinda Seberang, Minggu (3/5/2026) sore, acara ini mengumpulkan para pelaku UMKM dan komunitas perempuan untuk bicara jujur tentang kondisi mental mereka.
Alih-alih formal seminar, acara ini dikemas dengan format “Ngobrol Santai”. Psikolog Fransisca Debi Oktavia yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa kenyamanan peserta adalah prioritas utama agar mereka berani terbuka.
“Sebenarnya hari ini kegiatan kita lebih ke ngobrol santai, jadi ini bukan seminar atau ceramah. Kita ingin memberikan semacam ruang aman buat para ibu-ibu ini agar lebih sadar tentang kesehatan mentalnya dan sedikit memberikan teknik untuk relaksasi,” ujar Deby.
Deby menekankan bahwa kekuatan seorang perempuan bermula dari kemampuannya mengakui perasaan sendiri. Mengabaikan emosi negatif justru bisa menjadi bom waktu bagi kesejahteraan diri.
“Saya sampaikan kita tidak boleh mengabaikan perasaan kita, apapun itu. Mungkin rasa lelah, stres, dan segala sesuatu yang muncul akibat kita suka memendam atau mengecilkan masalah kita,” tambahnya.
Inisiatif ini bukan sekadar agenda sekali jalan. Wakil Sekretaris DPD PSI Samarinda, Yulisa Wineyni, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus merangkul perempuan di berbagai sektor, terutama UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
“Kita mencoba mengakomodir perempuan-perempuan yang bekerja, baik dalam sektor kecil maupun besar. Kegiatan ini akan berkelanjutan dan ke depannya kita akan menyasar UMKM atau usaha-usaha wanita yang lainnya,” ungkap Yulisa.
Menurutnya, dukungan moril dan strategis sangat dibutuhkan agar perempuan tetap berdaya menghadapi tekanan ekonomi maupun sosial.
Respon positif pun datang dari peserta. Herlina, Ketua Komunitas Herlene Crochet, mengakui bahwa banyak perempuan yang bergabung dalam komunitas sebenarnya sedang mencari “pelarian positif” dari rutinitas yang menjemukan.
“Rata-rata tujuan masuknya mereka ke komunitas kami ingin membuang kejenuhan. Makanya dengan adanya materi dari PSI hari ini, sangat bermanfaat untuk ibu-ibu, baik rumah tangga maupun UMKM pemula,” pungkas Herlina.








