SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menempatkan persoalan stunting sebagai salah satu isu kesehatan paling mendesak yang harus segera ditangani. Tingginya angka prevalensi yang masih berada di level 22,2 persen pada 2024 membuat Pemprov menilai, upaya penurunan tidak dapat lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui intervensi terpadu lintas daerah.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya percepatan penanganan pada kelompok paling rentan. Ia menekankan, seluruh kabupaten/kota harus bergerak dalam ritme yang sama agar hasil dapat terlihat dalam waktu dekat.
“Angka kita masih 22,2 persen. Ini harus dikejar agar tahun depan turun signifikan. Tidak bisa ditunda, harus kerja bersama,” ucapnya, Senin (1/12/25).
Pada strategi yang kini disusun, Pemprov memberi perhatian khusus pada seribu hari pertama kehidupan, fase yang dinilai paling menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Penanganan difokuskan pada ibu hamil, terutama yang masuk kategori Kekurangan Energi Kronis (KEK), serta bayi usia 0–11 bulan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui serangkaian program, mulai dari deteksi dini kesehatan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, vitamin, hingga bantuan dari Kementerian Kesehatan yang disalurkan melalui Dinas Kesehatan dan DP3A. Selain itu, Pemprov juga memperkuat edukasi keluarga mengenai pola pencegahan stunting, termasuk meniru keberhasilan program edukasi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang.
Koordinasi dengan kabupaten/kota diperketat melalui rapat berkala, yang digunakan agar mengevaluasi capaian bulanan, memantau kondisi posyandu, serta menilai konsistensi pelaksanaan program di lapangan.
Dirinya menegaskan, meski Kaltim mengalami penurunan Dana Bagi Hasil (DBH), anggaran penanganan stunting tetap menjadi prioritas dan telah dimasukkan dalam RPJMD. Pemerintah memastikan alokasi APBD untuk pengendalian stunting terus ditingkatkan agar intervensi dapat berjalan lebih optimal.
Dengan serangkaian langkah ini, Pemprov berharap prevalensi stunting di Kaltim dapat ditekan secara signifikan pada 2025 dan menghadirkan generasi yang lebih sehat di masa depan. (yud)








